Keguguran???...
Dengar perkataan "Keguguran" pun dah perit,...inikan pula nak lalui...
Semua orang tahu dan fahami Keguguran boleh jadi satu pengalaman yang amat memeritkan...Adakalanya kejutan emosi disebabkan pengalaman keguguran boleh membuatkan seseorang itu menjadi trauma untuk kembali hamil...
Oleh kerana Cik Mainnie telah melaluinya, jadi Cik Mainnie sangat mengerti ketika seorang ibu menangis mengenangkan bayi yang selama beberapa bulan berada di rahimnya, berbagi makanan dan nafas yang sama , kemanapun sang ibu pergi janin itu selalu dibawa dalam perutnya, kehadirannya sangat di nanti-nanti bahkan banyak impian dan harapan yang sudah disusun , tapi tiba-tiba detaknya berhenti. Tidak ada lagi tanda kehidupan disana, Sang Pemilik begitu cepat merengkuh dari sisinya bahkan sebelum janin itu melihat indahnya dunia.
Tangis itu pecah , bersambut dengan airmata yang tanpa henti, air mata kesedihan yang mendalam, tanpa suara, hanya sebuah tangisan yang menyayat hati setiap yang mendengarnya, hampir saban hari berharap dalam doa, menanti saat-saat rahim berbuah, menantikan suara kecil menyebut nama si ayah si ibu, menantikan generasi penerus silsilah. Tapi sekali lagi , kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan semua keputusan kembali kepada-Nya. Sang Pemilik begitu cinta sehingga memanggilnya pulang segera.
Bayi adalah makluk yang paling tidak berdaya diantara manusia. Dia adalah makhluk terkecil dan termuda diantara manusia. Kehadirannya merupakan nilai yang sangat berharga bagi pasangan suami isteri.
Anak adalah merupakan amanah besar yang
Allah beri kepada pasangan suami isteri, keberadaan anak dapat menghantarkan ke
surga-Nya atau keneraka-Nya. Sebuah jabatan yang bermuatan amanah yang sungguh
mahal. Dimana orangtua di haruskan membawa anak-anak mereka ke surga-Nya dan
menyelamatkan mereka dari api neraka-Nya.
Terkadang kita sebagai orangtua lupa bahawa
anak merupakah titipan yang suatu saat kelak Sang Pemilik ( baca : Allah
swt ) berkeinginan mengambilnya maka kita sebagai orang yang dititipkan harus
bersedia melepaskannya.
Rasa sedih dan hancur merupakan
perasaan fitrah yang ada pada diri manusia, inikan pula buah hati mereka
harus pergi begitu cepat kepada Pemiliknya. Bahkan Rasulullah saw pun besedih
akan perkara ini.
Anas bin Malik Radhiallaahu
anhu meriwayatkan ketika putra Rasulullah Ibrahim akan meninggal, ia
datang menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan Ibrahim
nafasnya sudah terengah-engah, maka kedua mata beliaupun berlinang air mata.
Dalam riwayat lain disebutkan beliau
mengambilnya dan meletakkannya di atas pangkuan sambil berkata: “Wahai
anakku! Aku tidak memiliki hak kuasa apapun yang dapat kuberikan kepadamu di
sisi Allah”. Melihat Nabi menangis Abdurrahman bin Auf dan Anas
radhialallhuanhu lalu bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa Anda menangis?
Bukankah Anda telah melarang menangis?’ Beliau menjawab : “Wahai Ibnu Auf,
sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih
sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang”, kemudian beliau melanjutkan
sabdanya: “Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka
namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai Rabb kita. Wahai Ibrahim,
sungguh kami sangat bermuram durja karena berpisah denganmu.” (HR.
Al-Bukhari dan Mus-lim).
Hanya simpati yang dapat Cik Mainnie titipkan,…kerana kita tak ada kuasa untuk merubah apa yang menjadi keputusan-Nya,… yang kita mapu hanyalah menerima dan selalu berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin Allah ingin menjadikan alhmarhum anak kita sebagai “Tabungan di akhirat “, kalau boleh mengutip kata-kata seorang sahabat, barang kali kita sebagai orangtua dahulu kala punya “dosa besar” yang tidak akan mampu tertolong tanpa adanya “tabungan akhirat”,….kehilangan bayi mungkin itu yg terbaik , atau mungkin sebenarnya kondisi janin itu “jauh dari kondisi sihat”, “jauh dari kondisi normal dan Allah merasa kita sebagai orangtua tidak sanggup menghadapi ujian itu, dan jadilah rezeki kita hanyalah dapat merasakan “kehamilan” dan Insya Allah akan diberikan rezeki lain yang lebih walaupun mungkin pada akhirnya “bukan rezeki anak” dan yang harus kita ingat, janin itu merupakan tabungan orangtua di akhirat.
Sekali lagi , Cik
Mainnie hanya mampu memohon semoga Allah
swt menggantikan kehilangan ini dengan Keredhoan-Nya. Dan akhir kata Cik Mainnie
mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un, pada para ibu bapa yang melalui pengalaman
perit ini…Semoga kesabaran selalu menaungi anda sekeluarga.
-eND-
**** Ikuti kisah anak-anak syurga kami di entri-entri yang akan datang…
Smile With LOVE from :-

No comments:
Post a Comment